Pembangunan The Rayja Salahi RTRW

BATU - Pembangunan hotel The Rayja yang memicu konflik antara warga, Pemkot Batu dan investor, memantik perhatian anggota DPR RI. Polemik itu diyakini tak akan muncul jika tak ada pelanggaran Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Anggota Komisi VII DPR RI, Totok Daryanto, mengatakan, investor hotel The Rayja melanggar RTRW atas dilaksanakannya pembangunan itu. "Lokasi pembangunan sangat dekat dengan sumber mata air. Jika diteruskan, hal itu bisa mengancam kelestarian lingkungan sekitar," ujar Totok, Minggu (23/6).

Menurutnya, jarak lokasi pembangunan hotel dengan sumber air Gemulo yang hanya sekitar 200 meter jelas melanggar RTRW. Ironisnya, sambung Totok, Pemkot Batu mau mengeluarkan izin mendirikan bangunan (IMB) hotel itu.

"Kenapa pemkot menurunkan IMBnya, ini patut disesalkan. Hak masyarakat harus dilindungi, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti sumber air ini," urai Totok. Ia berjanji akan mengkomunikasikan masalah ini dengan mitra DPR RI. Mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup, Gubernur Jatim Soekarwo dan menindaklanjuti dengan melakukan pelaporan kepada Direktorat Pengawasan Republik Indonesia.

Sebelumnya, Walikota Batu, Eddy Rumpoko merealisasikan janjinya pada warga empat desa. Melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu, dibuat surat keputusan menghentikan pembangunan hotel The Rayja. Surat Keputusan Walikota Batu bernomor 730/287/422-400/2013 meminta pembangunan hotel The Rayja dihentikan. Pemkot Batu meminta kepada Willy Suhartanto, pemilik Hotel The Rayja untuk menghentikan total pembangunan hotel berlokasi di Desa Bulukerto Kecamatan Bumiaji.

Koordinator Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA), Imam Yunanto, mengatakan, warga cukup lega dengan terbitnya SK penghentian hotel itu. "Saat kami menggelar aksi unjukrasa, walikota memang menjanjikan penghentian pembangunan hotel. Kemudian direalisasikan dengan surat keputusan itu," kata Imam. Air yang mengalir ke rumah warga sering keruh sejak ada aktivitas pembangunan hotel. Dengan dihentikannya proses pembangunan tersebut, warga berharap kondisi air kembali normal.

"Air yang disalurkan melalui jaringan himpunan pengguna air minum di Desa Sidomulyo dan Bumiaji sering keruh. Kalau pembangunan berhenti, kami yakin kondisi air kembali normal," tandas Imam. Ia berharap seiring dengan terbitnya SK walikota itu maka pihak investor mau menuruti untuk menghentikan pembangunan. Warga juga meminta Satpol PP Kota Batu bisa bersikap tegas dengan berpedoman pada SK walikota. Sekedar diketahui, pada Senin (17/6) lalu ribuan warga Kecamatan Bumiaji ngelurug Balai Kota Batu. Warga mendesak Walikota Batu menghentikan pembangunan hotel The Rayja karena dianggap merusak sumber air Gemulo. Hal itu kemudian disikapi pemkot melalui Satpol PP Kota Batu dengan membongkar pagar penutup lokasi proyek.

zar

From "www.surabayapost.co.id"

Judul Berita